Pelepasan Jenazah dan Penghormatan Terakhir untuk Perawat yang Telah Gugur di garda terdepan

Pandemi covid 19 belum juga berakhir, bencana non alam ini menciptakan krisis multi-dimensi di seluruh dunia yang bukan hanya berdampak pada kehancuran ekonomi, tetapi juga mempengaruhi kehidupan sosial warga masyarakat. Tingginya risiko menderita burn out syndrome (sindrome kelelahan bekerja) akibat stres yang luar biasa berat di fasilitas kesehatan selama pandemi ini dapat mengakibatkan efek jangka panjang terhadap kualitas pelayanan medik.

Burn out pada tenaga kesehatan menimbulkan rasa lelah baik secara fisik maupun emosi. Keadaan ini membuat daya tahan tubuh melemah sehingga lebih rentan terhadap covid 19 dan berisiko menimbulkan gejala parah sehingga menyebabkan kematian.

Hari ini, rabu 24 februari 2021, telah gugur salah satu tenaga kesehatan senior, bapak suhaimi, A.Md.Kep. Beliau dirawat beberapa hari di RSUD dr. H. Andi Abdurrahman Noor, sampai akhirnya berpulang ke Rahmatullah. Seluruh karyawan RSUD beserta perwakilan dari beberapa organisasi profesi kesehatani, diantaranya IBI dan PPNI turut serta berhadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada beliau.

Sebelum jenazah di antar ketempat peristirahatan terakhir, jenazah di sholatkan, yang dipimpin langsung oleh Plt.Direktur dr. Muhammad Yandi Noorjaya.

Selanjutnya jenazah di bawa menggunakan ambulance dengan di iringi barisan pegawai RSUD dan beberapa organisasi profesi kesehatan dengan penuh haru dan rasa hormat. Teriring doa untuk beliau,semoga dilapangkan kubur, keluarga yang ditinggalkan menerima dengan ikhlas, dan semoga tidak adalagi tenaga kesehatan yang gugur karena berjuang melawan covid 19 ini.

Perjuangan ini bukanlah tentang siapa yang berada di garis terdepan, melainkan tentang bagaimana kita saling bahu membahu berjuang melawan covid 19 dengan menerapkan Protokol kesehatan dalam kehidupan kita sehari – hari. Jangan biarkan pengorbanan mereka para tenaga kesehatan sia – sia, hanya karena kelalaian, ketidak pedulian dan rasa kemanusiaan kita yang sudah hilang.

Mereka yang kehilangan keluarga  karena positif covid pasti merasa sangat sedih, sedangkan mereka yang pernah positif covid 19 dan berhasil sembuh pasti merasa bahagia, covid 19 itu nyata walaupun tidak terlihat. Jadi kepada seluruh masyarakat jangan lupa tetap terapkan protokol kesehatan dimanapun berada “KALAU BUKAN KITA, SIAPA LAGI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *